
Pernahkan Anda mendengar tentang suatu pekerjaan dalam kehidupan tercapai tanpa kepemimpinan? Bila jawaban Anda membenarkan, berarti tidak diragukan lagi hal itu merupakan bagian dari khayalan, bertentangan dengan fitrah manusia yang merupakan entitas sosial yang diciptakan untuk berhubungan satu dengan yang lain. Dalam menata hubungan ini pasti dituntut adanya seorang pemimpin yang melaksanakan, memandu dan membawa pekerjaan ke arah target pencapaian.
Selanjutnya mengutip dari buku “Menjadi Pemimpin Efektif dan Berpengaruh” (2001), Jamal Madhi mengulas sebagai berikut. Hakikat diutusnya Rasul kepada manusia sebenarnya hanyalah untuk memimpin umat dan mengeluarkannya dari kegelapan kepada cahaya. Tidak satu pun umat yang eksis kecuali Allah mengutus orang yang mengoreksi aqiqah dan meluruskan penyimpangan para individu umat tersebut.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut itu.” (QS. An Nahl, 16 : 30)
Makna hakiki kepemimpinan dalam Islam adalah untuk mewujudkan khilafah di muka bumi, demi terwujudnya kebaikan dan reformasi. Perintah Allah demikian jelas dalam firman-Nya : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa, 4 : 65)
Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan hal ini, walaupun dalam masyarakat yang jumlahnya kecil atau sasarannya sederhana. Beliau bersabda : ”Apabila tiga orang keluar untuk melakukan suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka untuk menjadi pemimpin.” (HR. Abu Daud)
Bagaimana pendapat Anda kepemimpinan dalam masyarakat yang lebih besar dan goal yang juga tinggi?
Para ulama Islam memprioritaskan topik kepemimpinan dalam pengartian khusus, karena itu merupakan salah satu daya dukung agama. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya “Siyasah Syar’iyyah” mengatakan, “Wajib diketahui bahwa memimpin urusan manusia ternyata termasuk kewajiban terbesar agama, bahkan tidak akan tegak agama kecuali dengannya. Sesungguhnya kepentingan anak-anak Adam tidak akan tercapai secara sempurna kecuali dengan organisasi, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dalam organisasi ini sudah seharusnya ada seorang pemimpin.”
Rektor Universitas Padjadjaran (UNPAD), Prof. H.A. Himendra Wargahadibrata seperti dikutip dari Koran Pikiran Rakyat (14/12/2003) pada pidato sambutan wisuda lulusan gelombang I Th. Akademik 2003/2004 mengatakan kepada wisudawan:
“Untuk menjadi pemimpin yang baik, Saudara harus mampu mengartikulasikan visi, penuh dengan kreatifitas dan mampu memberdayakan masyarakat. Namun sebelum itu, Saudara harus pula dapat memahami tantagan yang terbentang di depan Saudara ditinjau dari berbagai sudut pandang.”
Tantangan itu, lanjutnya, kemudian diselaraskan dengan kemampuan yang dimiliki. “dengan demikian, kompetensi Saudara sebagai pemimpin akan sangat bergantung dari pemahaman terhadap tantangan atau dengan kata lain –challenge first, competencies second,” tegasnya.
Kepemimpinan Selebritis atau Pendidik?
Diantara kepemimpinan yang paling spesifik adalah kepemimpinan pendidikan (Educational Leadership), karena kesuksesan mendidik generasi, membina umat dan berusaha membangkitkannya terkait erat dengan terpenuhinya kepemimpinan pendidikan yang benar. Krisis yang mengepung umat manusia saat ini tiada lain karena hilangnya kepemimpinan pendidik yang teladan.
Ini diwasiatkan AlImam Ghazali dalam ungkapannya : “Seorang pelajar harus memiliki seorang guru pembimbing (mursyid) yang dapat mengeluarkan akhlaq yang buruk dirinya dan menggantikannya dengan akhlaq yang baik. Ia juga harus memiliki seorang Syaikh yang dapat mendidik dan menunjukkan ke jalan Allah Ta’ala.”
Inti efektifitas proses kepemimpinan terletak pada wibawa (pengaruh) interaktif antara pemimpin dan pengikutnya. Kepemimpinan yang sukses yaitu pemimpin yang mampu mempengaruhi individu-individu untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target organisasi, mengembangkan, memegang teguh komitmen, dan menjaga kekuatan bangunannya. Setidaknya bahwa pemimpin itu merupakan orang yang mengetahui kondisi dirinya, dan apa yang dipimpinnya.
Lalu bagaimana dengan “kepemimpinan selebritis”? Jika dibandingkan dengan kepemimpinan yang mendidik, pendidik, terdidik sudah terlalu jauh makna, proses cara, dan hasil yang dipimpinnya. Oke Coba simpulkan sendiri!
Tulisan ini saya tutup dengan sebuah penuturan dari Daniel Boorstin, seorang pakar manajemen organisasi, dalam Majalah Parade (6/8/1995) mengungkapkan, “Dunia dewasa ini memiliki para pemimpin, tetapi mereka berada di bawah bayang-bayang para selebritis. Pemimpin dikenal karena prestasi mereka, sedang kaum selebritis dikenal karena ketenaran mereka. Pemimpin mencerminkan kemungkinan-kemungkinan hakikat manusia, sedang kaum selebritis mencerminkan kemungkinan-kemungkinan pers dan media. Kaum selebritis adalah orang-orang yang membuat berita, tetapi para pemimpin dalah orang-orang yang membuat sejarah.”
Salam Ekselenizer dari Agus Ridwan Sopari, untuk Anda yang excellent!
RSS Feed
Twitter![AgusRidwanSopari.com [ ARIDH Ekselenizer ] AgusRidwanSopari.com [ ARIDH Ekselenizer ]](http://agusridwansopari.com/wp-content/themes/Vitalis/images/logo.png)

Posted in
Tags: 





Iyalah mending menjadi pemimpin buat sejarah, kalau artis cuma buat berita, sebentar pamornya. sedangkan sejarah pasti dikenang sepanjang hayat
Tulisan yang menarik untuk dibaca. Tentu saya lebih memilih kepemimpinan pendidik yang lebih berorientasi pada prestasi dan tujuan daripada popularitas semata.