Brand-building Teh Botol Sosro
March 15, 2010 BRANDING, BUSINESS STRATEGY

Branding adalah kunci pertahanan terhadap komoditisasi -sebuah proses di mana barang-barang yang dimata konsumen memiliki nilai ekonomi dan dapat dibedakan dalam hal atribut (keunikan atau merek) yang mempengaruhi keputusan membeli. Dengan trend menghadapi cepatnya pencarian dan kompetisi global dalam semua kategori produk dan jasa,tarikan terhadap komoditisasi sekarang telah menjadi unsur kekuatan dalam pemasaran.
Nilai dari branding - cerdas, relevan, merek yang efektif membedakan dari pesaing - juga merupakan jalan untuk menigkatkan kesuksesan, memperluas pangsa pasar dan menangkis alotnya kompetisi bisnis. Pada 1970-1980, tidak banyak yang mengenal teh merek “Teh Botol Sosro” tapi akhirnya produk ini menjadi terobosan dan menjadi produk nasional yang diakui di Kadin, yang setidaknya membuat gentar Coca-Cola.
Branding atau “brand-building” / membangun merek telah menjadi perhatian di Departemen Pemasaran, Agen Periklanan, Biro Desain dan Konsultan. Bagaimanapun branding melampaui sikap, atau logo, atau slogan, atau kampanye iklan. Branding adalah harta jangka panjang yang mana komunikasi pemasaran merupakan investasi jangka pendek.
Jika diperhatikan Teh Botol Sosro membangun mereknya dengan slogan-slogan yang bertujuan untuk ekspansi pangsa pasar, terakhir slogannya “Apapun Enaknya Minum Teh Botol Sosro”.
Brand Anda adalah aset perusahaan yang nyata – sesuatu yang akhir dari semua apa yang seharusnya bisnis Anda jalankan.
Kita kilas balik usaha Teh Botol Sosro yang bermula pada 1940 yang saat itu Sosrodjojo, memulai usahanya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Slawi. Pada saat memulai bisnisnya, produk yang dijual adalah teh kering dengan merek Teh Cap Botol. Pemasarannya masih terbatas, hanya seputar Jawa Tengah saja.
Sosrodjojo mulai memperluas bisnisnya. Pada 1953, dia berani merambah ke Jakarta. Saat itu, di Jawa Tengah, Teh Cap Botol sudah sangat terkenal.
Sosrodjojo menggunakan strategi ‘Cicip Rasa’. Dia membagikan contoh produk di ibukota. Dia datang ke pasar-pasar untuk memperkenalkan Teh Cap Botol dengan cara memasak dan menyeduh langsung di tempat. Setelah seduhan tersebut siap, teh dibagikan kepada orang-orang yang ada di pasar. Namun, cara ini kurang berhasil karena teh yang telah diseduh terlalu panas dan proses penyajiannya terlalu lama, sehingga pengunjung di pasar yang ingin mencicipinya tidak sabar menunggu.
Sosrodjojo pun memutar otak. Ia tidak lagi menyeduh teh langsung di pasar. Tetapi teh dimasukkan dalam panci-panci besar yang selanjutnya dibawa ke pasar dengan menggunakan mobil bak terbuka. Lagi-lagi cara ini kurang berhasil karena teh yang dibawa, sebagian besar tumpah dalam perjalanan. Akhirnya muncul ide untuk membawa teh yang telah diseduh itu dikemas ke dalam botol yang sudah dibersihkan. Ternyata cara ini cukup menarik minat pengunjung, karena selain praktis juga bisa langsung dikonsumsi tanpa perlu menunggu tehnya dimasak.
Pada 1969 muncul gagasan teh siap minum dalam kemasan botol. Pada 1970, teh dalam kemasan botol diproduksi masal. Setelah usaha ini pesat, pada 1974 keluarga Sosro mendirikan PT Sinar Sosro yang mengelola pabrik teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia.
Branding bukanlah masalah sederhana pada departemen pemasaran, ini adalah persoalan yang perlu diperhatiakan dalam pembelian sampai sistem informasi. Dengan kata lain manajemen merek adalah manajemen perusahaan dalam pengertian mendalam.
Yang jadi masalah adalah perusahaan yang mengalihkan pengertian branding kepada tukang obat yang berkoar-koar. Ditangan yang tidak ahli, branding menjadi cara untuk mengaburkan kesamaan relatif, bukannya mengkomunikasikan keunikan yang relevan.
Keunikan relevan produk teh dalam kemasan tersebut adalah pemakaian brand name yang sesuai dengan nama pemiliknya dan bentuk kemasannya dan bahkan, Sosro mengklaim, teh kemasan botol merupakan yang pertama di dunia. Keunikan kedua dari metode pemasaran teh botol sosro adalah pada kekakuan dari produk itu sendiri. Sesuai teori pemasaran, konsumen secara alami mengalami perubahan atribut kepuasan seiring berjalannya waktu. Perubahan itu dapat disebabkan karena gaya hidup, kondisi ekonomi, atau kecerdasan yang makin meningkat.
Seiring perubahan pasar itu harusnya produk yang dipasarkan harus menyesuaikan dan mengikuti tren yang ada. Namun yang terjadi pada produk teh inovatif ini justru kebalikan. Semenjak diluncurkan pada tahun 1970, produk teh botol sosro baik rasa, kemasan logo maupun penampilan tidak mengalami perubahan sama sekali.
Bahkan ketika perusahaan multinational Pepsi dan Coca cola masuk melalui produk teh Tekita dan Frestea, Sosro tetap tak bergeming. Alih-alih merubah produknya, dengan cerdas sosro justru melakukan counter branding dengan mengeluarkan produk S-tee dengan volume yang lebih besar. Strategi ini ternyata lebih tepat, kedua perusahaan multinasional itu pun tak berhasil berbuat banyak untuk merebut hati konsumen Indonesia.
Mind share is nothing; market share is everything. Bukan begitu. Tetapi ingat, branding merupakan perangkat yang penting untuk memperoleh pangsa pasar, tetapi kebanyakan perusahaan yang suskes mereknya hanyalah sebuah bagian dari manajemen merek.
Oya, jika Anda membutuhkan download logo vector Teh Botol Sosro, untuk kepentingan yang dibenarkan, anda dapat mendownloadnya format EPS-nya di sini.
Author: Agus Ridwan Sopari | Vision Coach, Graphic Designer, InfoPreneur & Business Communication Consultant
Comments (1)







Branding is the most important thing in marketing and the strength of the company