Indonesia itu merupakan negara outsourcing. Jadi, Indonesia itu tidak melakukan industrialisasi. Karena Indonesia itu hanya memiliki pabrik saja, itu pun tidak menyelenggarakan pendirian pabrik di Indonesia, tapi milik asing. Negara itu berfungsi sebagai tukang pembersih WC yang diberakin oleh ekonomi kapitalis. – Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo, Rektor UP45 Yogyakarta.

Pendapat profesor Dawam Rahardjo di atas dikutip dari satu video pendek yang viral via WhatsApp Group (20/3). Tidak sendiri, dua figure lainnya dalam video berdurasi 1 menit 55 detik yaitu Profesor Sri-Edi dan Doktor Revrisond mengutarakan pendapat tentang kedudukan bangsa Indonesia kontemporer.

Entah kapan video ini dipublikasikan, oleh media apa, dan apakah ketiganya memang berkomentar dalam forum yang sama. Kareng ingin cek validitas videonya, setelah ditelusuri di Youtube rupanya tersedia. Terlepas dari itu semua, saya merasa perlu untuk menjadikan kontemplasi selaku generasi bangsa atas inspirasi ketiga mahaguru kita.

Pidato rektor UGM pada Dies Natalis 2013; kita tidak berdaulat dalam teknologi, kita tidak berdaulat dalam bibit, kita tidak berdaulat dalam mesiu, kita tidak berdaulat dalam pangan, kita tidak berdaulat dalam energi, kita tidak berdaulat dalam obat, kita tidak berdaulat dalam industri. Obat hanya peracik, industri hanya perakit. Kita ini kehilangan banyak kedaulatan. Nah, saya menuding apa yang kau ajarkan kepada para mahasiswamu. Kok, para mahasiswamu jadi kayak begini dan tidak melihat bahwa sekarang keadaannya bertentangan dengan Undang-undang Dasar. Tidak melihat bahwa tanpa kedaulatan itu memalukan.  Kok, tidak ada yang kerasa itu?!  – Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Ketua Majelis Luhur Taman Siswa.

Saya bisa menyaksikan beberapa anak muda bahkan yang jomblo berwiraswasta dan telah menjadi agen perubahan. Dalam industri kuliner di Indonesia telah berhasil merestorasi masakan tradisional mengubahnya menjadi gaya hidup dan diterima baik oleh pasar. Tidak hanya itu pertumbuhan ekonomi yang digawangi anak muda di sektor industri kreatif lainnya juga menghasilkan lapangan pekerjaan baru.

Sisi lain, anak muda dalam hal ini pelajar atau mahasiswa mendapatkan motivasi dan kesadaran berwiraswasta hanya sedikit saja yang diperoleh dari bangku ‘pendidikan formal’. Ironisnya dari beberapa alasan klise anak muda ingin berwiraswasta adalah agar bisa membiayai kuliahnya sendiri.

Sekarang universitas berhentilah menyibukkan diri dengan embel-embel “world class university”, “research university”, whatever … Bagi saya itu semua hanyalah cerminan dari neokolonialisme. Dan jangan-jangan kenyataannya seperti itu. Ya. Bahwa pada dasarnya, perguruan tinggi di Indonesia selama ini berperan sebagai pusat pengkaderan agen-agen kolonial.  – Dr. Revrisond Baswir, Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kesehatan UGM.

Tapi saya merasa optimis, dibarengi semangat pelaku KUMKM (Koperasi & Usaha Mikro Kecil Menengah) yang menguatkan diri dengan banyak belajar dan berbagi pengalaman berwiraswasta. Kita tidak perlu menjadi budak di negeri sendiri, bahkan saling bahu membahu membuat iklim ekonomi kerakyatan yang menguntungkan rakyat.

Pada laman Nationalinterest.org disebutkan kemungkinan Indonesia akan melampaui Rusia dan Brazil, dan mungkin pula setidaknya mendekati Jerman sekitar tahun 2030. Indonesia, mirip dengan India, memiliki sejumlah faktor termasuk di sisi jumlah penduduk muda (usia rata-rata sekitar 28 tahun). Dan diuntungkan secara geografis diantara Cina, Australia dan India yang memungkinkan untuk mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ketiga, atau poros menuju nomor satu. Bahkan bila China melambat, Indonesia diperkirakan tidak akan memperlambat laju pertumbuhan secara signifikat, menurut IMF. Dikutip dari artikel “These 5 Countries Will Dominate The Global Economy”, oleh Smuel Rines, seorang Senior Economist and Portfolio Strategist di Houston, TX.

Foto: Merdeka.com | Video: YouTube