Majulah negrinya. Majulah pandunya. Sejak Dini.

Siapa saya yang baru mengetahui lagu kebangsaan kita memiliki 3 stanza belakangan ini. Lirik yang lebih panjang daripada yang biasa kita hapal. Kalaulah tidak pernah dipopulerkan kembali oleh Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015 lalu, kita mana tahu.

“Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Di sanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku”

Apa yang dibayangkan dari bait  ‘jadi pandu ibuku’ pada zaman Anda masih bocah? Apakah menandu ibu karena sudah tua rempong bak firaun ditandu oleh bodyguard-nya atau membayangkan seperti dalam Sisingaan, kesenian Sunda yang dimainkan ketika hajatan. Anak lelaki yang disunat  duduk di atas boneka singa yang ditandu oleh bahu 4 orang dewasa yang menari.

Tidak naif, pastinya Anda sekarang tidak memaknai ‘jadi pandu ibuku’ sesederhana bocah itu, ya. Terinpirasi dari peringatan HUT Pramuka ke-59, penulis ingin membahas mengenai pandu atau pramuka.

Instrumen lagu Indonesia Raya 3 stanza pertama kali dilantunkan dan dimainkan W.R. Supratman, sang komposernya pada 28 Oktober 1928. Pada stanza ketiga terdapat kata pandu, melengkapi yang tercantum pada stanza kesatu di atas.

“Majulah negrinya

Majulah pandunya

Untuk Indonesia Raya”

ERA PRA KEMERDEKAAN

Pada tahun 1928 itu juga, salah satu organisasi pelopor perjuangan kemerdekaan Indonesia meluncurkan SIAP pada kongres Sarekat Islam di Banyumas, Jawa Tengah. SIAP merupakan kependekan dari nama Sarekat Islam Afdeeling Pandoe.

KH. Agus Salim sang pendirinya adalah salah satu tokoh pahlawan nasional yang menaruh perhatian pada pendidikan kepanduan. Beliaulah yang pertama kali mengusulkan dan menggunakan istilah ‘pandu’ dan ‘kepanduan’ untuk mengatasi  istilah sebelumnya ‘padvinder’ dan ‘padvinderij’ yang oleh Belanda di larang penggunaanya.

Dahulu kala banyak organisasi kepramukan yang didirikan oleh Bumiputera (penyebutan orang asli pribumi) seperti Javaannsche Padvinder Organisatie, Padvinder Jong Sumatra dan bahkan di  tahun 1921 lahir Padvinder Muhammadiyah. Belakangan namanya dikenalkan menjadi Hizbul Wathan oleh Muhammadiyah.

Pandu dan pramuka sebenarnya adalah padanan kata. Pandu itu ya pramuka dan pramuka itu ya pandu. – Pramukaria.id

ERA AWAL KEMERDEKAAN

Mengutip dari Pramukaria.id, kesadaran untuk mulai menyatukan organisasi kepanduan bumiputera seperti itu terbentuklah KBI (Kepanduan Republik Indonesia) dan PAPI (Persatuan Antar Pandu-Pandu Indonesia), dan dilarangnya aktivitas kepanduan di masa pendudukan Jepang. Juga dinamika kepanduan di masa kemerdekaan dengan puncaknya meleburnya berbagai organisasi kepanduan dalam Gerakan Pramuka pada tahun 1961.

Sarekat Islam dan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam bersemangat untuk mendidik karakter dan kedisiplinan bangsa sejak anak-anak muda melalui kepanduan. Ada satu lagi yang menarik dari sisi sejarah.

Menariknya, ada real sultan dari kerjaaan Islam di Keraton Ngayogyakarta yang akan menjadi pemersatu gerakan kepanduan dengan menamainya menjadi praja muda karana, jenama yang kita kenal sebagai Pramuka.

Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno pada 14 Agustus 1961 menyerahterimakan Panji Gerakan Pramuka kepada sang raja Kesultanan Yogyakarta ini. Maka sesuai hasil Munas Gerakan Pramuka tahun 1988 di kota Dili, Timor Timur, menetapkan yang mulia Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia.

Pembentukan Gerakan Pramuka di Indonesia diakui oleh WOSM (World Organization of the Scout Movement) pada tahun 1973. Sri Sultan Hamengku Buwono IX dianugerahi Bronze Wolf Award yangmerupakan penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari WOSM.

ERA KEMERDEKAAN

Di era kemerdekaan, setelah setengah abad berlalu gerakan pramuka dihadirkan dengan peluncuran secara resmi  pada tanggal 23 November 2018 di Ngamprah, Bandung Barat sebuah Gerakan Rintisan Pramuka Prasiaga sebagai penguatan pendidikan karakter anak.

Gerakan ini menjadi yang pertama dilakukan di tingkat nasional. — Pikiran-Rakyat.com

Gerakan pramuka di Indonesia dipondasikan oleh para pejuang, ulama dan sultan. Tokoh-tokoh tersebut terkesima dengan pendidikan ala Bade Powel itu. Salah satunya Kyai Ahmad Dahlan yang terkesima melihat anak-anak muda berseragam (para anggota Javaannsche Padvinder Organisatie), berbaris rapi, dan melakukan berbagai kegiatan yang menarik. Mereka kelihatan tegap dan disiplin. (Muhammadiyah.or.id)

Akademisi di Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus ketua pengurus wilayah Himpaudi Jawa Barat, Dr. Rudiyanto, M.Si. melihat bahwa metode pendidikan pramuka dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran PAUD melalui kepramukaan Prasiaga PAUD.

Direktur Pembinaan PAUD Kemendikbud Muhammad Hasbi mengungkapkan kepada Pikiran-Rakyat.com, pihaknya menyambut baik inisiatif  Gerakan Pramuka di Jabar sebagai upaya untuk menguatkan pendidikan karakter sejak usia dini. Ini inisiatif yang baik dan tentu akan kami angkat ke tingkat nasional,” ujarnya.

Bagi penulis yang tidak pernah menikmati pramuka, moga saja kepramukaan bisa mengasyikkan sejak PAUD. Dididik berakhlakul karimah, tangguh, disiplin, berani dan bertanggung jawab sehingga akan membangun generasi yang produktif belasan atau puluhan tahun kedepan.

Menjadi pandu ibuku bagi penulis adalah siap bergerak untuk memajukan bangsa ini menjadi negeri yang makmur lagi diberkahi, lantas generasi kita menjadi warga negara Indonesia yang tangguh dan siap menjadi bagian persaudaraan umat manusia sedunia.

SELAMAT HARI PRAMUKA YA KAKAK!
TERUSLAH BERGERAK JANDI PANDU NEGERI

~  HALAL DIBAGIKAN  ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *